Trip #7: Jelajah Taman Selfie di Gardu Action Parangkusumo


Kata "LOVE" yang jadi ikon Gardu Action Parangkusumo (dok. Pribadi)

Kata "LOVE" bernuansa pink dan lafadz "ALLAH" dengan dominasi warna kuning adalah dua dari sekian banyak spot selfie yang bisa ditemui saat berada di tepian pantai Parangkusumo, dusun Mancingan XI, desa Parangtritis, kecamatan Kretek, kabupaten Bantul, DIY.

Di antara rimbunan pepohonan cemara udang dan semak-semak itu, aku seperti menemukan taman selfie seluas 200 m x 400 m. Kenapa kusebut taman selfie? Karena, tempat ini memang sengaja dibangun untuk berselfie ria dengan berbagai spot yang kreatif khas anak muda.


Pintu masuk Gardu Action (dok. Pribadi)

Rasanya, perjalanan yang hampir dua jam dari rumah dengan mengendarai sepeda motor, dan susur pantai sekitar 30 menit di bawah terik matahari kala itu terbayar lunas saat menemukan lokasi tersebut.

Awal cerita ketika ngobrol tentang obyek-obyek wisata di Bantul dengan teman jurnalis salah satu radio milik pemerintah yang biasa 'ngubek-ngubek' wilayah itu dalam beberapa tahun terakhir ini. Dia memberikan dua rekomendasi dua lokasi yang menurutnya cukup menarik untuk dikunjungi. Rekomendasi pertama hutan mangrove di Baros, dan kedua adalah Gardu Action di Parangkusumo, lengkap dengan foto-fotonya yang langsung mengundang rasa penasaran.

Tiga hari berikutnya, aku pun menyempatkan diri ke sana. Mumpung jelang weekend juga. Awalnya berencana ngajak ponakan, tapi karena masih sibuk dengan Ujian Tengah Semester (UTS) dan terlanjur membuat janji dengan salah satu pengelola Gardu Action, mas Budi, jam sebelas siang (insya Allah) sampai lokasi, akhirnya meluncurlah ke arah selatan Yogyakarta, sekitar pukul 09.30 WIB, dengan estimasi 1,5 jam sampai sana. Tapi ternyata, di perjalanan sempat nyasar karena mencoba jalur yang jarang aku lewati dengan harapan bisa cepat nyampe, tapi malah memperlambat perjalanan hingga akhirnya tiba di kawasan pantai Parangtritis sekitar pukul 11. 15 WIB.
"Waduh telat nih," gumamku dalam hati.

Sampai pantai Parangtritis perjalanan belum berakhir karena harus berjalan ke barat kurang lebih 1 km (sesuai petunjuk mas Budi, "sebaiknya masuk melalui pantai Parangtritis saja"). Saat menapaki jalanan pasir di bibir pantai itu yang terbayang dalam benakku adalah perjalanan para Nabi di masa lalu yang seringkali digambarkan melewati gurun pasir di tengah hari wekekekekek... Jauh banget ya imajinasinya :D

Kaki serasa berat melangkah di atas pasir yang panas masih ditambah dengan terik mentari yang hampir tepat di atas kepala menjadi bagian dari 'perjuangan' mencapai lokasi Gardu Action yang dalam pandanganku masih sangat jauh dan melelahkan, karena gardu yang terbuat dari bambunya saja masih terlihat sangat kecil dari kejauhan.




Panorama saat susur pantai dari Parangtritis menuju Parangkusumo (dok. Pribadi)

Tapi sebenarnya, jalur 'melelahkan' itu tak perlu dilewati ketika masuknya langsung melalui kawasan Parangkusumo, dari arah Jalan Parangtritis. Cuma karena aku belum hafal jalannya dan khawatirnya malah semakin memperlama jarak tempuh sementara waktu semakin siang, akhirnya jalur pantai Parangtritis menjadi 'jalan pintas' yang menurutku terbaik. Meskipun faktanya, tak sepintas yang kubayangkan hehe...

Perasaan lega mulai menyelimuti ketika hampir mencapai lokasi. Apalagi melihat sesosok pria bertelanjang dada di bawah gardu pandang bambu oops...

"Mbak, cari siapa?" Tanya pria itu sembari menebarkan senyum yang agak terpaksa, mungkin karena aku sok akrab haha
"Mau ketemu jenengan. Saya yang telp tadi," ucapku yakin sembari mengulurkan tangan tanda perkenalan.
Tapi kok dia malah keliatan kebingungan ya
Langsung kutimpali lagi, "masnya mas Budi yang mengelola Gardu Action ini kan?"
"Bukan!" Tegasnya dan langsung membuatku 'mak jleb' nyadar kalau salah orang.
"Lah, masnya siapa?" Tanyaku masih setengah gak percaya sembari mengaburkan rasa malu :D
"Saya pengunjung, saya sudah di sini sejak beberapa hari lalu untuk mencari ketenangan... (Dan... Bla... Bla... Bla...)"
"Woalah ternyata aku ngobrol dengan orang yang lagi 'semedi' toh" gumamku di dalam hati.
"Ow maaf mas. Kalau gitu saya cari pengelolanya dulu ya. Permisi," pungkasku sembari berlalu menuju taman selfie.

Sesampainya di Gardu Action, aku ketemu dengan mas-mas yang tengah menyapu taman. Saat aku tanya soal mas Budi, ternyata orangnya baru saja bergeser dari lokasi, tapi mas-mas yang ternyata punya nama Vika Wahyu Aji ini adalah ketuanya. Nah, gayung bersambut. Aku pun ngobrol lumayan lama dengan mas cakep berkaos kuning ini. Ahay... Gak cuma ngobrol tapi juga minta tolong difotoin di beberapa spot yang dia tunjukin.

Dari cerita mas Vika, kekagumanku akan tempat ini semakin menjadi karena ternyata Gardu Action ini didirikan oleh anak-anak muda yang peduli lingkungan, dengan memanfaatkan sampah yang sebelumnya menumpuk di kawasan Parangkusumo.

Mas Vika bilang, sampah 'kiriman' dari Pantai Parangtritis itu sempat memicu konflik sosial antarwarga di dua wilayah tersebut. Singkat cerita, sekitar 25 anak muda di wilayah Parangkusumo sepakat untuk menyelesaikan masalah sampah yang menjadi pemicu konflik itu dengan menyulapnya menjadi barang-barang yang bisa jadi ornamen selfie untuk menarik pengunjung.

Berdirilah Gardu Action yang tak lain kependekan "Garbage Care and Education" itu pada 19 Agustus 2015 lalu.




Salah satu sudut Gardu Action di sisi selatan (dok. Pribadi)

Memang setelah diamati, hampir semua ornamen selfie yang dipajang di beberapa titik terbuat dari sampah-sampah botol plastik dan kaca yang disusun dalam berbagai bentuk. Misalnya, tulisan "LOVE" itu dirangkai dari 131 botol plastik air mineral ukuran 1500 ml yang dicat pink dan ditempelkan di rangka bambu dan menjadi ikon Gardu Action. "Paling bagus kalau foto di sini saat jelang senja karena biasanya mereka mengejar sunset dengan gambar siluet" kata mas Vika usai memotret saya di depan ikon tersebut.

Di taman ini, masih kata mas Vika, ada dua pintu gerbang yang sengaja dibuat. Di dekat pintu gerbang pertama terlihat tumpukan sampah yang belum diolah. Sedangkan di pintu gerbang kedua, juga tampak sampah-sampah botol yang sudah dipilah dan saat memasuki taman, sampah-sampah yang sudah dipilah dan dipilih dikreasikan dalam berbagai bentuk yang artistik.

Selain ikon "LOVE" dan lafadz "ALLAH" ada juga kincir cinta, gubug Narito, Kubah, Pintu ke mana saja Doraemon, replika mobil-mobilan dari ban bekas lengkap dengan helmnya, bangku 'sendiri' untuk para jomblowers, penjahat cinta, pohon harapan dengan botol bergelantungan warna-warni, halte, ayunan, area go green, menara pantau, payung teduh, kedai 0 Mdpl, dengan dua panggung dengan latar belakang "love".















Spot-spot selfie di Gardu Action (dok. Pribadi)

Di sisi timur dan utara ada lokasi camping, arena edukasi, serta mushola dan toilet unik. Di bagian depan ada tempat pemilahan sampah lengkap dengan katalog sampah, serta ruang administrasi.








Sejumlah fasilitas pendukung di Gardu Action (dok. Pribadi)

Dari area pintu masuk, ada petunjuk "Gardu Action" sebelah utara dan sisi selatan disambut oleh Dora dan Patrick yang menjadi ikon kartun anak-anak.



Dora dan Patrick 'menyambut' pengunjung di Gardu Action (dok. Pribadi)

Sebenarnya pengen mesen minuman dari kedai 0 Mpdl tapi pas aku datang pas tutup, jadi gak bisa menikmati menu spesialnya. Tapi, buat pengunjung yang hobi ngemil bisa beli makan minum di sekitar Gardu Action.


Warung-warung makan di kawasan pantai Parangkusumo (dok. Pribadi)

Ow iya, masuk ke Gardu Action juga gak mahal loh, cuma dua ribu perak untuk anak-anak di atas usia 10 tahun dan dewasa. Sedangkan anak-anak di bawah 10 tahun cukup membayar Rp. 1000. Malah kalau masih balita gak perlu merogoh kocek karena free entry. Asyik kan?

Puas muter-muter Gardu Action sekitar 30 menit, aku pamit, "Makasih ya, mas Vika," ujarku. Dan aku pun kembali menyusuri jalanan menuju kawasan Parangtritis lewat jalur 'darat' supaya lebih cepet, sembari cekrak-cekrek sepanjang jalan, sampai gak terasa dah nyampe parkiran lagi.






Panorama dari kawasan pantai Parangkusumo menuju Parangtritis (dok. Pribadi)

Perjalanan yang menyenangkan, saat bisa menikmati 'sisi lain' dari pantai Parangkusumo karya anak-anak muda yang kreatif.

Salam piknikers...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Trip #9: Menikmati wisata kuliner malam 'romantis' di angkringan pendopo lawas Jogja

Trip #8: Berdamai dengan alam di kawasan hutan mangrove Baros

Trip #12: di Kampung Flory Sleman, Icip-icip Kuliner Ndeso